Jumat, 10 April 2020
Luqman Nur Muhammad

Apakah tasawuf dan sastra sufi saja yang menjadi sumber sastrawan dalam menciptakan karya sastra sufistik?

Menciptakan karya sastra sufistik atau karya sastra yang mengandung nilai-nilai sufistik tidak harus dilakukan seorang sufi atau orang-orang berafiliasi dengan kelompok sufistik tertentu seperti tarekat, misalnya. Namun, suatu karya dikatakan sebagai sastra sufistik jika mengandung unsur-unsur sufisme atau tasawuf, seperti pengalaman-pengalaman tasawuf seorang individu yang semangatnya adalah mencintai dan kembali kepada Allah Swt.

Kamis, 9 April 2020
Faidatiwi Puspitasari

Apakah lirik lagu yang memuat nilai Islam termasuk kedalam Sastra Islam?

Misal saja salah dua lagu dari Abid Ghoffar bin Aboe Dja'far (Ebiet G. Ade) dalam lagunya yang berjudul, terdapat lirik seperti berikut :

Ijinkan Aku Reguk Cintamu 
[Aku bertasbih bukan hanya karena, Takut akan azab neraka-Mu]
[Aku bertahmid bukan hanya karena, Ingin merebut nikmat surga-Mu]
[Aku bertakbir seluruh jiwa dan raga, Karena sungguh mendambakan-Mu]
[Ya Allah]
[Ya Rahman]
[Ya Rahim]
[Ya Karim]
[Segala puji bagi-Mu]

Untuk Kita Renungkan
[Tengoklah ke dalam sebelum bicara]
[Singkirkan debu yang masih melekat]
[Hanya kepada-Nya kita kembali]

Masih ada Waktu
[Yang terbaik hanyalah segera bersujud]

Jika dilihat dari unsur pencipta, Ebiet G.Ade adalah seorang muslim, di dalam lagu pertama nilai-nilai Islam ditunjukan secara langsung, namun di lagu selanjutnya secara tersirat.


Merujuk pada Siswantoro (2010: 23), menurutnya lirik lagu merupakan bagian dari karya sastra, karrna termasuk kepada karya sastra jenis puisi.

Benar, lirik lagu adalah sastra. Jadi, lirik itu termasuk sastra Islam, ya.

Pertanyaan selanjutnya.

Dalam buku Robohnya Surau Kami oleh A.A. Navis terdapat kumpulan cerita pendek yang mengusung tema Islam.

Salah satu cerpen di awal yang berjudul "Robohnya Surau Kami", menceritakan seorang kakek yang menjadi petugas masjid, hidupnya ia abdikan untuk beribadah semata karena Allah SWT, setiap perkataannya adalah tasbih, setiap perilakunya adalah ibadah. Namun ia tewas mengenaskan bunuh diri akibat mendapatkan cerita dari seorang pada intinya, seorang ahli ibadah yang masuk neraka karena hanya terfokus untuk beribadah.

Mohon maaf karena keterbatasan saya dalam memaparkan masalah yang kurang jelas, karena buku tersebut tidak ada untuk saat ini. 

Yang ingin saya tanyakan adalah, saat membaca tersebut, saya sempat merasa terguncang, karena melihat tokoh agama pun bisa masuk neraka, hingga akhirnya seorang kakek yang rajin beribadah meninggal dengan jalan bunuh diri. Ini semakin mengguncang jiwa saya.

Yang saya jabarkan tersebut apakah masuk kedalam kontra islam? Jika iya, maka kontra yang seperti apa?

Saya juga senang dengan cerpen Navis tersebut. Penuh dengan kritik terhadap kehidupan beragama seseorang. Terkait nilai kontra-Islam, pada intinya, Anda perlu menandai aspek-aspek yang bertentangan dengan nilai yang dianut oleh Islam. Misal: dalam konteks tersebut apakah peristiwa bunuh diri sesuai dengan ajaran Islam? Bagi saya tidak karena bertentangan dengan QS. An-Nisa [4] 29-30. Maka itu menjadi salah satu nilai kontra-Islam di dalam teks.

Gali lagi pertanyaan-pertanyaan lain mengenai, misalnya, apakah hanya mementingkan hablun minallah dan mengabaikan hablun minannaas adalah bagian dari semangat Islam? Padahal Islam menghendaki adanya keseimbangan karena banyak teks yang menghedaki agar manusia bisa meraih kehidupan dunia dan akhirat. Salah satunya dalam QS. Al-Qashash [28]: 77. Jadi, bagi saya adalah kontra-Islam. Namun, bisa jadi Anda punya pandangan lain sehingga menurut Anda itu bukan nilai yang bertentangan dengan Islam dengan argumentasi yang Anda miliki.

Pada intinya, menemukan nilai Islam dan nilai kontra-Islam adalah berkaitan dengan cara Anda memberikan argumentasi apakah sesuatu yang saya sebutkan itu sesuai atau bertentangan dengan nilai Islam.

Jumat, 27 Maret 2020
Muhammad Noval Abdul Rozak 

Adakah sastra islam yang ditulis oleh non muslim?

Mengacu pada pandangan Shalih Adam Baylu bahwa faktor kepengarangan itu penting, maka penulis sastra Islam harus seorang Muslim.

Jumat, 20 Maret 2020
Hidayat Muhammad Sidiq

Apakah sastra Islam yang berkembang saat ini juga masih dipengaruhi oleh sastra pada masa zaman Jahiliyah, mengingat orang Arab pada masa Jahiliyah sangat suka bersyair sampai-sampai diadakan lomba.

Ya, syair adalah genre tertua dalam kesusastraan Arab, lahir sejak masa pra-Islam. Dengan demikian, bisa dikatakan masa jahiliyah juga memberikan sumbangan berupa genre syair.

Jumat, 20 Maret 2020
Luqman Nur Muhammad

Mengapa penyusunan Al-Quran baru dimulai pada masa Khulafa ar-Rasyidin, apakah saat Rasulullah masih hidup proses ini belum dimulai?

Menurut Muhammad Mushtafa al-A'zami dalam Sejarah Teks Al-Quran (2005:83), saat Rasulullah Saw. masih hidup, al-Qur'an sudah ditulis tetapi belum dikumpulkan dalam satu kumpulan surah. Hal itu juga disebabkan karena saat beliau hidup, wahyu masih diturunkan sampai akhirnya beliau wafat. Wafatnya Rasulullah Saw. menandakan bahwa turunnya wahyu telah berakhir sehingga al-Qur'an yang telah diturunkan dan ditulis semasa hidup Rasulullah Saw. dinyatakan telah sempurna (tidak akan ada lagi perubahan hukum). Dengan demikian, penyusunannya baru dilakukan setelah beliau wafat.

Jumat, 20 Maret 2020
Nurul Aini Choriyah

Faktor yang mempengaruhi perkembangan sastra Islam sampai akhirnya ke luar jazirah Arab?

Faktor paling besar adalah perluasan wilayah. Sejak Abbasiyah mengembangkan kekuasaannya ke Eropa Selatan, Afrika Utara, menuju Asia Selatan bahkan sebagian Nusantara, yang salah satunya juga menyebarkan Islam, tentu yang terjadi adalah asimilasi atau penyesuaian kebudayaan yang asli di wilayah tersebut dengan kebudayaan yang dibawa oleh Abbasiyah. Dengan demikian, kebudayaan Islam di wilayah-wilayah baru itu memiliki karakteristik yang khas dibanding kebudayaan "asli" dari Arab itu sendiri.

Jumat, 20 Maret 2020
Faidatiwi

Apa spesialnya khalifah Utsmani hingga di bagan diberi warna kuning (dalam time line di materi)?

Tanda kuning yang berbeda dari yang lain pada Turki Utsmani menandakan bahwa Turki Utsmani berbeda dari yang lain. Perbedaannya adalah makna sastra Islam pada periode itu menyempit. Pada periode yang sama dengan Turki Utsmani, sastra Islam juga menjadi "milik" wilayah lain, di antaranya adalah Dinasti Syafawi di Persia, Dinasti Mughal di India, dan sebagian dari Nusantara (termasuk Kerajaan Samudera Pasai yang ditanyakan pada pertanyaan kedua).

Pada abad pertengahan arab, tercantumkan kerajaan pasai, apakah pengaruh kerajaan samudra pasai memang sampai ke jazirah Arab? Atau itu wawasan tambahan saja?

Seperti jawaban pada nomor 1 ya. Yang terjadi sebaliknya. Karena kekuasaan Abbasiyah mencapai sebagian Asia termasuk Nusantara, maka Abbasiyah yang memberi pengaruh, bukan sebaliknya.

Nampaknya sastra di jazirah arab pada zamannya sangat masyhur ya, tapi apakah ada kasus seorang raja atau pemimpin suatu wilayah menerapkan keebijakan kebebasan dalam bersastra?

Pada masa Abbasiyah kebebasan yang dimaksud muncul. Di antaranya banyaknya penyair-penyair kerajaan (dipekerjakan oleh kerajaan).

Jumat, 20 Maret 2020
Muhammad Noval

Apakah adanya perubahan pada setiap kekhalifahan disertai dengan sebab, atau karena dipengaruhi oleh pemerintahan pada zaman tersebut?

Pada masa khulafa ar-rasyidun tidak begitu signifikan karena hanya 29 tahun dan difokuskan pada memperkuat akidah Islam setelah ditinggal wafat Rasulullah Saw.

Sedangkan pada dinasti-dinasti setelahnya, perubahan di setiap pergantian khalifah tetap ada karena pada dasarnya kebudayaan bersifat dinamis dan selalu berkembang. Namun, perubahan dalam kebudayaan antarkhalifah tidak signifikan karena fokusnya adalah pada masalah politik. Yang menonjol adalah perubahan besar dalam setiap periode karena perubahannya signifikan, dipengaruhi oleh karakteristik masing-masing periode. Misalnya Dinasti Abbasiyah yang punya misi mengembangkan wilayah dan ilmu pengetahuan.

Jumat, 20 Maret 2020
Asa Qubaila Sitta Zidna Rizqia

Perkembangan sastra Islam sebelum islam masuk itu bagaimana ya? Sedangkan jaman itu masih jahiliyah belum mengenal islam?

Sastra Islam baru muncul saat Islam tersebut lahir. Dalam lini masa (time line) yang diberikan di materi, pra-Islam dimasukkan sebagai penanda bahwa sastra Islam baru muncul setelahnya atau setelah masa jahiliyah berakhir (622 M).

Jumat, 20 Maret 2020
Rafi Akhbar Kurniawan

Saya pernah mendengar kalau dalam syi'ir itu ada pemakluman/kebolehan menyelisihi kaidah kebahasaan (Nahwu Sharaf). Yang ingin saya tanyakan, pada masa bani Umayyah saat ilmu kebahasaan pertama kali dicetuskan, adakah konflik/kejadian yang muncul pada saat itu antara para penyair dan para ahli bahasa (ad-Duali, dll )?

Menurut Muhammad Mushtafa al-A'zami dalam Sejarah Teks Al-Quran (2005:154), tata bahasa Arab (Nahwu) pada awalnya berfokus untuk mengajarkan membaca al-Quran secara benar yang pertama kali diperhatikan oleh Khalifah Umar ibn Khattab sehingga beliau memerintakan perlunya penyusunan kaidah tata bahasa yang salah satunya dilakukan oleh Abul Aswad ad-Duali. Dalam konteks kesusastraan, tata bahasa tersebut muncul dengan disusunnya kaidah prosodi (tata pola dan bunyi syair) yang dicetuskan oleh Al-Farahidi.

Sejauh penelusuran saya terkait tata bahasa Arab dan pertentangannya dengan gaya kesusastraan Arab saat itu (syair), saya belum menemukan adanya gesekan antara penyair dan ahli bahasa. Bahkan dalam disertasi Mohammad Alqanaei Poetry and the Destabilization of the Umayyad State (2013), kesusastraan saat itu mulai mendapatkan perhatian dari sisi kebahasaan, yaitu dengan adanya (ilmu pengetahuan mengenai) arudh dan qawafi.

Jumat, 20 Maret 2020
Lathifah Khairunnisa

Faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan sastra di setiap masa? Dan apakah setelah masa utsmani perkembangan puisi lebih daripada perkembangan prosanya?

Setiap periode memiliki karakteristik tersendiri dalam mengembangkan kebudayaan, termasuk kesusastraan. Perbedaan karakeristik tersebut didasarkan pada fenomena dan kecenderungan setiap periode dalam merespons berbagai permasalahan besar pada masanya. Pada masa Rasulullah Saw. dan Khulafa ar-Rasyidun, permasalahan besar selain masalah kekuasaan, adalah masalah akidah Islam dan pemertahannya setelah Rasulullah Saw. wafat. Maka, corak kesusastraannya pun dipengaruhi oleh hal tersebut.

Cukup berbeda dengan yang terjadi sejak masa Umayyah dan seterusnya. Karakteristiknya sudah mulai berubah. Pergantian satu dinasti ke dinasti berikutnya utamanya dipengaruhi oleh faktor politik. Adapun perkembangan kebudayaan dipengaruhi oleh kondisi sosial dan politik di setiap dinasti tersebut. Ada yang memberikan perhatian besar, seperti masa gemilangnya perkembangan pengetahuan termasuk kebudayaan pada masa dinasti Abbasiyah.

Jumat, 20 Maret 2020
Dwi Suryani

Apakah perkembangan sastra mempengaruhi pergantian setiap dinasti?

Yang terjadi sebaliknya:pergantian dinasti memberi pengaruh pada kesusastraan di setiap dinasti.

Waktu SD-SMP, saya sering membaca novel, ambil contoh novel bidadari-bidadari surga yang beberapa bulan kemudian difilmkan setelah saya baca. Dulu saya rasa sangat mudah merasakan energi dalam setiap bacaan, saya akan mudah tersentuh lalu menangis. Tapi yang saya rasa sekarang cukup berbeda, saya selalu berfikir 'cerita ini tidak realistis' lalu menghilangkan reaksi klimaks saya membaca suatu bacaan, alhasil gagal terharu. Pertanyaan saya: apakah nilai-nilai sastra dalam diri saya -berkaitan dengan penyucian jiwa- mulai terkikis seiring bertambahnya umur? Atau memang setiap orang mengalami yang saya rasakan?

Setiap orang akan memberi respons atau meresepsi setiap karya sastra yang dibacanya secara berbeda satu sama lain. Menurut Wofgang Iser dalam teorinya yang disebut dengan Teori Respons Pembaca atau Teori Resepsi, setiap pembaca memiliki horizon harapan, yaitu harapan-harapan yang muncul di dalam benak pembaca saat membaca suatu karya sastra. Harapan itu dipengaruhi oleh wawasan, pengetahuan, dan pengalaman pembaca tersebut.

Yang terjadi pada kasus Anda adalah bahwa horizon harapan Anda saat kecil dan setelah dewasa berbeda (bukan karena nilai sastra Anda telah berkurang atau hilang). Perbedaan horizon harapan saat kecil dan saat ini dipengaruhi oleh wawasan, pengetahuan, dan pengalaman Anda saat ini. Bisa jadi, seiring bertambahnya usia, Anda merespons hal-hal fiksi dalam suatu karya sastra secara lebih reaktif dan dikaitkan dengan pengalaman hidup Anda secara riil. Hasilnya, ada hal-hal yang tertulis dalam fiksi Anda nilai sebagai hal yang tidak realistis karena pengalaman Anda menunjukkan hal demikian saat ini.

Jumat, 20 Maret 2020
Catur Ristiyanti

Adakah tokoh-tokoh yang penting dan karya pentingnya di Dinasti Mughal?

Ada. Di antaranya adalah Malik Muhammad Jayazi yang menulis Padmaved, Nizamuddin Ahmed yang menulis Tabaqat-I- Akbari, Abul Fazl yang menulis Ain-I-Akbari, dan Badaun yang menulis Muntakhab-ul-Tawarikh. Lebih lanjut mengetahui sastrawan-sastrawan Mughal dapat membaca buku ini.

Jumat, 20 Maret 2020
Asa Qubaila Sitta

Bukankah ketika nabi hijrah disambut oleh orang Madinah sudah menggunakan rebana dengan syiir thallah badru ya? Kenapa baru muncul saat zaman abasiyah?

Kata muncul sebetulnya perlu saya jelaskan lebih terperinci. Rujukan dalam materi mengacu pada buku Perkembangan Sastra Arab dan Teori Sastra Islam (Fadil Munawar Manshur). Dalam penelitian berjudul Music Performance Practice in the Early 'Abbasid Era (1989), George Dimitri Sawa menyebutkan bahwa pada masa Abbasiyah dikenal sebuah pertunjukan musik yang lebih modern dengan peralatan yang lebih lengkap menggunakan rebana (tambourine). Sebagai sebuah pertunjukan, sajian musik tersebut baru dikenal di era Abbasiyah dan disebut sebagai the golden age of music in Islam.

Namun secara historis, alat musik rebana sendiri telah dikenal dalam kebudayaan Mesopotamia, Yunani, dan Romawi. Setelah itu, kemudian masuk ke dunia Islam (Arab) termasuk era Rasulullah Saw. Dari awal, rebana memang selalu berkaitan dengan ritual-ritual keagamaan . Kembali pada paragraf pertama, "rebana" yang dikenal pada masa Abbasiyah sebagai pelopor adalah sebuah pertunjukan musik modern yang disebut orang Eropa/Barat sebagi konsep musik baru. Hal itu juga diperkuat oleh Sudibyo Markus (2019:147) dalam bukunya Dunia Barat dan Islam yang menyatakan bahwa saat Perang Salib (abad ke-11 sampai ke-17), orang-orang Eropa (Barat) menemukan teknik berperang baru yang dilakukan oleh pasukan Muslim yang salah satunya menggunakan alat-alat seperti rebana dan gendang untuk memberikan semangat.

Jumat, 20 Maret 2020
Kinanti Ayu Ramadhan Mohammad Bagus

Di era Dinasti Abbasiyah mulai munculnya sastra Arab Kristen. Orang-orang kristen atau gereja-gereja ikut berperan dalam mengembangkan sastra Arab tersebut. Bagaimana orang-orang kristen atau gereja-gereja ikut berperan dalam berkembangnya sastra Arab di era Dinasti Abbasiyah?

Karena pada dinasti Abbasiyah terjadi perluasaan wilayah secara masif yang mencakup Afrika Utara, Eropa Selatan, hingga Asia Selatan, orang-orang non-Musim termasuk Kristen mendapatkan perhatian besar. Di antaranya dalam masalah perkembangan kebudayaan dan kesusastraan. Salah satu bentuk kontribusinya adalah bermunculannya aktivitas literasi yang dilakukan oleh orang-orang Arab Kristen.

Menurut Harmakaputra dalam artikelnya Muslim-Christian Debates in The Early 'Abbasid Period: The Cases of Timothy I and Theodeore Abu Qurra, pada masa Abbasiyah dilakukan penerjemahan besar-besaran literatur Yunani termasuk tema-tema pemikiran dan diskursus agama. Hal tersebut menjadikan wacana antaragama (Islam dan Kristen) diakomodasi dalam bentuk perdebatan yang didukung oleh khalifah saat itu. Selain itu, orang-orang Arab Kristen juga secara aktif menyebarkan pemikiran-pemikirannya, termasuk kesusastraan. Dengan demikian, tradisi literasi orang Arab Kristen berkembang pada dinasti ini.

Jumat, 20 Maret 2020
Slamet Zakaria

Pada masa dinasti Umayyah terdapat karya sastra yang berjudul Layla Majnun, mengapa karya sastra tersebut dikatakan sangat penting dan apa hubunganya dengan kisah Romeo dan Juliet yang berada di Eropa?

Seperti pada syair yang kembali muncul tema ghazal, pada genre prosa (liris) pun munculnya Layla Majnun (yang ditulis pertama kali oleh Qais Al-Mulawwah) menjadi penanda kembalinya tema-tema yang mengeksplorasi cinta dan hubungan dramatis antara perempuan dan laki-laki. Pada periode sebelumnya, karya sastra menitikberatkan pada pemertahanan akidah Islam.

Kisah Romeo and Juliet merupakan tragedi yang ditulis William Shakespeare ditulis pada abad ke-16 dengan tema yang sama dengan Layla Majnus, yaitu "cinta terlarang". Kemunculan kedua karya sastra serupa dalam kesusastraan yang berbeda menunjukkan bahwa tema tersebut merupakan tema universal yang dikenal di kebudayaan mana pun.

Pada masa Abasiyyah ada seorang sastrawan yang bernama Abu Nuwas. Apakah ada hubunganya dia dengan Abu Nawas seoarang yang menciptakan syi'ir Al Itiraf. Atau saya yang salah pemahaman?

Ya, sama saja, Abū Nuwās al-Ḥasan ibn Hānī al-Ḥakamī.

Jumat, 20 Maret 2020
Aninda Nisa Maylana

Mengapa Karagoz pada tanggal 27 Ramadhan tidak dimainkan oleh orang-orang pada masa Kekhalifahan Utsmani?

Karagoz biasa dipertunjukkan pada malam Ramadhan. Setelah sehari penuh masyarakat berpuasa, pada malamnya mereka makan, minum, dan menonton pertunjukan Karagoz di kafe-kafe. Hal itu dikecualikan pada malam 27 Ramadhan karena masyarakat merayakan peringatan turunnya al-Qur'an (nuzulul Qur'an).